(sumber : google picture)
Dalam perjalanan filosofis, terdapat sejarah yang mengatakan
bahwa kebenaran itu bisa dibedakan, dan mereka-mereka yang
mempercayai kebenaran itu seolah tidak bisa dilepaskan dengan kebenaran
teologis. Kebenaran dalam sejarah itu bermacam-macam absolut dan individu,
dalam kurun waktu beberapa abad kebenaran-kebenaran itu mulai berubah antara
individu dan kebenaran absolut. Lalu mereka bertanya “sebenarnya apa yang benar”.
Lalu aku menjawab, “apakah di dunia ini yang kalian butuhkan adalah kebenaran?”.
Setelah pertanyaan tersebut mereka jelas mengatakan “jelas, kami butuh”. Ketika
hal itu terjadi, apakah kebenaran itu sebegitu sakralnya di dunia ini. Beberapa
abad setelah hal itu terjadi, ilmu pengetahuan merombak beberapa konsep
tersebut tetapi ada yang masih utuh walaupun cacat di dalamnya. Seperti yang
dilihat sekarang, mereka-mereka yang mempertanyakan kebenaran sudah tidak
relevan kembali karena mereka sadar dunia ini merupakan interpretasi mereka
sendiri, manakala mereka mempertanyakan, apakah manusia sanggup hidup tanpa
interpretasi?.
jika anda menggunakan proposisi seperti "dunia ini merupakan interpretasi mereka sendiri" atau lebih tepatnya diri saya sendiri. itu sama saja seperti pemikiran di zamannya Hegel dan Kant dalam memahami sebuah kebenaran akan realitas kehidupan
BalasHapusdalam konteks ini, anda apakah bisa hidup tanpa interpretasi?
BalasHapusya tentu saja belum bisa, karena dunia saya dan dunia anda mungkinlah sangat sekali berbeda dari pelbagai faktor, jadi memang hidup itu penuh dengan interpretasi-interpretasi subjek
Hapus